
HELLODEPOK – Puluhan massa yang tergabung dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan aliansi masyarakat menggelar aksi damai di depan gerbang utama Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat (10/7/2026). Aksi tersebut merupakan respons atas unggahan konten edukasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi UI yang dinilai oleh para peserta aksi sebagai bentuk normalisasi terhadap isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Dalam aksi tersebut, hadir para ketua yang berasal dari berbagai elemen, diantaranya, Eman Sutriadi, Ketua Gerakan Depok Bersatu (GEDOR), Cak Anton, Ketua Gerakan Rakyat Semesta (GRS), Cahyo Putranto Budiman, Ketua Gerakan Lokomotif Pembangunan (GELOMBANG) dan Suryadi Boges, Ketua Grass Root, menyampaikan tuntutan agar Universitas Indonesia memberikan penjelasan kepada publik serta menjatuhkan sanksi apabila hasil evaluasi internal menemukan adanya pelanggaran terhadap peraturan kampus terkait unggahan tersebut.
Dalam aksi damai tersebut, peserta aksi membawa spanduk dan baliho berisi penolakan terhadap LGBT serta menyampaikan aspirasi secara bergantian melalui orasi.

Ketua Gedor, Eman Sutriadi, dalam orasinya mengajak masyarakat menjaga nilai-nilai moral dan agama di lingkungan pendidikan. Menurutnya, ” kampus sebagai institusi pendidikan memiliki tanggung jawab membentuk karakter generasi muda sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, ” ujar Eman yang juga pemerhati pendidikan nasional yang tinggal di kota Depok.
Sementara itu, Ketua Gerakan Rakyat Semesta (GRS), Anton Sujarwo, yang akrab disapa cak Anton, meminta Universitas Indonesia memberikan penjelasan sekaligus mengambil langkah yang dinilai tepat atas polemik yang berkembang. Ia menilai unggahan tersebut telah memicu keresahan di tengah masyarakat dan berpotensi memengaruhi citra UI sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.
Sebelumnya, unggahan dalam segmen “Kastratalk” milik BEM Fakultas Psikologi UI menjadi sorotan publik setelah membahas isu keberagaman seksualitas. Dalam konten tersebut, BEM mengutip pandangan American Psychological Association (APA) yang menyatakan bahwa homoseksualitas bukan merupakan gangguan mental maupun penyimpangan.
Unggahan tersebut kemudian memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian pihak menilai konten tersebut merupakan materi edukasi yang merujuk pada pandangan ilmiah, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai bentuk normalisasi terhadap LGBT. Perbedaan pandangan itulah yang kemudian memicu aksi penyampaian aspirasi di depan kampus Universitas Indonesia.
Hingga aksi berakhir, kegiatan berlangsung tertib di bawah pengamanan aparat kepolisian. Belum ada keterangan resmi dari pihak Universitas Indonesia terkait tuntutan yang disampaikan massa dalam aksi tersebut. (CP)
Editor : Cakpri









