Gelombang Klaim Bencana Alam dan Kebakaran Melanda Dunia, Asuransi Indonesia Ikut Terbakar

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 20 Mei 2025 - 11:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kebakaran. (Pixabay.com/kolyaeg)

Ilustrasi Kebakaran. (Pixabay.com/kolyaeg)

JAKARTA – Tahun 2024 bukan tahun yang mudah bagi pelaku industri asuransi umum di Indonesia.

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 087815557788.

Di tengah sorotan publik terhadap kenaikan premi dan penurunan profit, perusahaan asuransi menghadapi tekanan tak kasatmata dari arah yang jauh: turbulensi global.

Menurut Budi Herawan, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), gejolak ini sebagian besar disebabkan oleh gelombang klaim bencana alam yang melanda dunia.

“Tekanan akibat bencana alam global menyebabkan perusahaan asuransi di seluruh dunia—termasuk Indonesia—harus merombak strategi investasinya.”

“Dampaknya terasa langsung: premi naik, risiko meningkat, dan hasil underwriting melemah,” ujar Budi dalam pernyataan resmi.

Tak hanya berhenti di meja direksi, tekanan ini ikut memukul tumpuan keuangan perusahaan asuransi: laba bersih.

Dari Laba Triliunan Menjadi Rugi Belasan Triliun

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba setelah pajak industri asuransi umum di Indonesia pada 2023 masih menyentuh Rp7,80 triliun.

Namun, hanya dalam waktu setahun, angka tersebut terjun bebas menjadi kerugian Rp10,14 triliun pada 2024.

Penurunan sebesar 197,8 persen ini menunjukkan krisis yang jauh lebih serius dibandingkan fluktuasi musiman biasa.

Kerugian ini didorong oleh beberapa faktor. Pertama, peningkatan cadangan premi dan cadangan klaim, sebagai bentuk kehati-hatian menghadapi klaim besar.

Kedua, tingginya risiko portofolio akibat perubahan cuaca ekstrem yang tidak bisa diprediksi. “Di saat risiko meningkat, underwriting menjadi tidak menguntungkan.

Ini tekanan sistemik,” ujar analis keuangan senior dari Universitas Indonesia, Laksmi Siregar.

Tsunami Klaim Asuransi Global dan Ancaman 2025

Indonesia bukan satu-satunya yang babak belur. Menurut laporan tahunan perusahaan reasuransi global Swiss Re, kerugian akibat bencana alam sepanjang 2024 mencapai US$137 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun.

Angka ini sejalan dengan tren pertumbuhan kerugian tahunan 5–7 persen dalam lima tahun terakhir.

Peluang bagi aktivis pers pelajar, pers mahasiswa, dan muda/mudi untuk dilatih menulis berita secara online, dan praktek liputan langsung menjadi jurnalis muda di media ini. Kirim CV dan karya tulis, ke WA Center: 087815557788.

Swiss Re memperingatkan, jika tren ini berlanjut, kerugian pada 2025 diproyeksikan menembus angka US$145 miliar.

Ini akan menjadi salah satu tahun terburuk dalam sejarah industri asuransi global.

Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Yang menarik, sebagian besar kerugian bukan berasal dari bencana besar seperti gempa atau topan super, melainkan dari secondary perils.

Bencana skala kecil hingga menengah seperti banjir lokal, kebakaran hutan, dan badai salju yang kini semakin sering terjadi.

Investor yang serius bisa mendapatkan 100% kepemilikan media online dengan nama domain super cantik ini. Silahkan ajukan penawaran harganya secara langsung kepada owner media ini lewat WhatsApp: 08557777888.

“Itu jenis risiko yang sulit diasuransikan dengan presisi,” kata Budi Herawan.

Premi Semakin Mahal, Konsumen Kian Terbebani

Efek paling nyata bagi konsumen adalah melonjaknya harga premi asuransi.

Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan klaim global yang berdampak pada biaya reasuransi.

“Premi naik tidak hanya karena risiko meningkat, tetapi karena biaya lindung nilai (reinsurance) pun ikut melambung,” ujar Budi.

Di Indonesia, hal ini mulai terlihat pada produk-produk asuransi kendaraan, properti, dan asuransi bencana alam yang kini memerlukan penyesuaian tarif.

Sejumlah nasabah mengeluhkan pembaruan polis dengan premi dua kali lipat dari sebelumnya, tanpa penambahan manfaat signifikan.

Bank Indonesia dan OJK telah membuka ruang diskusi untuk mengkaji pricing model baru yang lebih adaptif namun tetap melindungi konsumen.

Namun di sisi lain, perusahaan asuransi tetap harus menjaga keseimbangan neraca agar tetap bertahan di tengah badai global.

Menakar Jalan Keluar: Adaptasi atau Kolaps?

Krisis ini bisa menjadi momentum untuk melakukan reformasi menyeluruh di industri asuransi.

Bagi akademisi seperti Prof. Laksmi Siregar, jalan keluarnya adalah “digitalisasi prediksi risiko berbasis iklim, penguatan regulasi cadangan teknis, dan literasi risiko terhadap publik.”

Budi Herawan menambahkan pentingnya sinergi dengan lembaga global, seperti Global Risk Modelling Alliance, agar Indonesia bisa mengakses teknologi prediksi bencana yang lebih canggih.

Di sisi lain, konsumen juga perlu mulai memahami pentingnya membaca risiko jangka panjang dan memilih asuransi yang benar-benar sesuai kebutuhan.

Asuransi tidak bisa lagi dilihat sebagai formalitas, tetapi sebagai instrumen mitigasi yang strategis.

Ketika Dunia Terluka, Kita Harus Bersiap

Fluktuasi iklim dan dampak ekonominya bukan lagi isu negara maju semata.

Indonesia kini berada dalam satu sistem global yang rapuh, dan asuransi adalah salah satu dinding pelindung utama yang kini mulai retak.

Krisis ini menjadi pengingat bahwa kita membutuhkan industri asuransi yang adaptif, sehat secara finansial, dan mampu bertahan menghadapi ketidakpastian dunia.

Regulasi harus terus dikawal, edukasi risiko diperkuat, dan strategi mitigasi diperbarui.

Karena saat badai datang lagi, hanya sistem yang siap yang bisa tetap berdiri.***

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Hutannews.com dan Mediaemiten.com

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media On24jam.com dan Kilasnews.com

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Haijateng.com dan Hariancirebon.com

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Optimalisasi Press Release Berbayar untuk Reputasi Perusahaan di Era Digital
Hallo.id Resmi Menjadi Media Ekonomi Dengan Fokus Analisis Dan Data Perekonomian Nasional
Comic 8 Kembali! Andre & Hesti Jadi Dukun Sakti yang Nggak Mati
Mentan: Surplus Jagung Bukti Resiliensi Pertanian Nasional di Tengah Tantangan
Super Air Jet Tertunda, Ridwan Kamil Bongkar Arogansi Manajemen Bandara
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Sesalkan Korupsi Bos Sritex di Tengah Krisis Industri Tekstil Nasional
Reaksi OJK Ketika Pinjaman Datang Tanpa Diminta, Diduga Scam Pinjaman Digital Bermodus Error
Hello Media Group (HMG) mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release, content placement, dan iklan. Penting untuk instansi, organisasi, dunia bisnis, dan tokoh publik. Kerja sama, hubungi: 08531-5557788

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 07:18 WIB

Sigenergy Resmi Melantai di Bursa Efek Hong Kong, Didukung Investor Global Terkemuka

Jumat, 17 April 2026 - 07:10 WIB

Pedoman Pertama tentang Penanganan Neuropati Perifer untuk Apoteker di Asia Pasifik

Jumat, 17 April 2026 - 07:03 WIB

CGTN: Pertukaran Budaya Mempererat Hubungan Persahabatan Tiongkok-Vietnam

Kamis, 16 April 2026 - 09:01 WIB

Krisis Pinjol Indonesia: Tembus Rp100 Triliun, Ini Cara FLIN Bantu Keluar dari Siklus Utang

Kamis, 16 April 2026 - 02:30 WIB

Kekurangan tenaga kerja dan risiko penggajian menghambat pertumbuhan bisnis: Remote menemukan bahwa 72% bisnis di seluruh dunia telah gagal mencapai target-target utama

Kamis, 16 April 2026 - 01:00 WIB

Southeast Asia Blockchain Week Kembali ke Bangkok untuk Edisi Ketiga

Kamis, 16 April 2026 - 00:21 WIB

Dahua Technology Luncurkan WizColor 2.0, Tingkatkan Solusi Pemantauan Berwarna di Kondisi Minim Cahaya

Kamis, 16 April 2026 - 00:07 WIB

Risen Energy Raih Pesanan Modul HJT 1,2 GW dari China Huaneng Group, Semakin Memperkuat Posisinya sebagai Pemimpin Industri

Berita Terbaru

Berita Depok

Lebaran Depok 2026 Siap di Gelar, Depok Rumah Kita

Kamis, 16 Apr 2026 - 13:05 WIB