Nara sumber: Prof. Dr. Bagus Takwin, Dr. Okky Madasari, Prof. Dr. Asvi Warman Adam, saat acara bedah buku karya Andre Donas di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu 23 Mei 2026 (cakpri)
HELLODEPOK.COM- Kegiatan bedah buku karya Andre Donas berlangsung sukses dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang hadir di Gedung Pusat Dokumentasi HB Jassin, kompleks Taman Ismail Marzuki, jalan Cikini Raya Jakarta Pusat, pada Sabtu, (23/5/2026)
Acara bertajuk “Literasi Budaya Berpikir Minangkabau: Bedah Dua Buku Sastra” ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pegiat literasi, di antaranya, sastrawan, Dr. Okky Madasari, sejarawan senior Prof. Dr. Asvi Warman Adam, serta akademisi Prof. Dr. Bagus Takwin. Diskusi membahas nilai budaya, kritik sosial, dan dinamika masyarakat Minangkabau yang tertuang dalam karya sastra Andre Donas.
Kegiatan yang diinisiasi Yayasan Rawamangun Mendidik bekerja sama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Pusat Dokumentasi HB Jassin, dan Dana Indonesiana berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta yang terdiri dari akademisi mahasiswa, pegiat sastra, hingga masyarakat umum tampak antusias mengikuti jalannya diskusi hingga selesai.
Masing-masing pembicara mengulas karya Andre Donas dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek sejarah, sosial, budaya, hingga nilai estetik sastra.

Asvi Warman Adam, Sejarawan
Sejarawan, Asvi Warman Adam, dalam pemaparannya menyoroti keterkaitan karya sastra Minangkabau dengan dinamika sosial masyarakatnya sejak masa lalu hingga sekarang. Menurutnya, karya sastra penulis Minang sejak era Balai Pustaka selalu menghadirkan kritik sosial terhadap adat, budaya, hingga cara pandang masyarakat Minangkabau.
“Dari masa Marah Rusli, Hamka, hingga A.A. Navis, karya sastra Minang selalu mempertanyakan kondisi masyarakatnya. Hal itu juga terlihat dalam karya Andre Donas yang lahir dari kegelisahan terhadap perubahan sosial masyarakat Minang saat ini,” ungkap Asvi.
Dia menjelaskan karya sastra Minang memiliki benang merah yang kuat, yakni menjadikan persoalan masyarakat sebagai sumber utama cerita dan refleksi pemikiran.
Okky Madasari, Sastrawan dan Novelis
Sementara, Okky Madasari memaparkan bagaimana karya sastra dapat menjadi ruang refleksi terhadap identitas budaya dan perubahan pola pikir masyarakat. la menilai karya sastra tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga merekam dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Bagus Takwin, Akademisi
Nara sumber lainnya, Bagus Takwin, menyoroti perubahan karakter sosial masyarakat Minang pasca peristiwa PRRI serta pengaruhnya terhadap cara berpikir generasi muda. Menurutnya, perubahan sosial tersebut turut memengaruhi cara masyarakat memandang tradisi, pendidikan, hingga peran perempuan dalam sistem matrilineal Minangkabau.
Sementara, Yoyok Budoyo Pracahyo, panitia penyelenggara dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan bedah buku ini dapat menjadi ruang dialog intelektual sekaligus memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat, “ujarnya
Dia mengatakan, tentang pandangan orang terhadap karakteristik masyarakat Minang yang umumnya dikenal berdagang. Namun, dalam perkembangannya, ternyata banyak juga yang menjadi sastrawan, serta belakangan ini banyak yang menjadi kiai atau ulama.
Dari pemikiran inilah yang mendasari Yayasan Ramangun Mendidik untuk memfasilitasi penerbitan karya sastra dan karya ilmiah lainnya. Selain menerbitkan buku, yayasan ini juga aktif melakukan berbagai kegiatan seperti penelitian dan kajian ilmiah terkait pendidikan dan sosial, “ungkapnya

Semoga karya-karya yang disampaikan oleh yayasan dapat memberikan manfaat bagi semua orang baik dalam perkembangan masa lalu maupun masa kini juga dapat memberikan inspirasi, banyak kajian dan input yang bermanfaat.
“Kami berharap forum diskusi ini mampu mendorong lahirnya karya-karya sastra yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga relevan dengan persoalan sosial dan budaya kekinian, ” terang Yoyok Budoyo Pracahyo, yang juga menjabat Ketua Harian Yayasan Rawamangun Mendidik. (CP)












